Kamis, 17 November 2011

laporan baca "Pengantar apresiasi karya sastra"


Buku sumber : pengantar Apresiasi Karya Sastra  (Drs. Aminudin,M.pd)
Laporan baca APF(Apresiasi Prosa Fiksi) 2
Nama : delly novianti
NIM : 072144027
Jurusan : Sastra Indonesia ‘07

            Dalam upaya pemahaman unsur-unsur dalam bacaan sastra tidak dapt dilepaskan dari masalah membaca. Karena sebelum kita melakukan kegiatan sebagai seorang apresiator hendaknya terlebih dahului kita pahami apa yang kit abaca dan juga kita perlu memahami unsure-unsur yang ada di dalamnya. Dan kegiatan membaca adalah sebuah hal yang penting. Dalam kegiatan membaca terdapat berbagai rumusan yang pertama : membaca adalah sebuah reaksi (timbulnya reaksi ketika kita sedang membaca seperti bunyi ujaran, dan disertai dengan pemahaman), membaca adalah proses (terdapat proses yang kompleks didalamnya, berpikir,berasa,dll)dan yang terakhir membaca merupakan pemecahan kode dan penerimaan pesan. Ragam dari membaca itu sendiri ada membaca dalam hati (kegiatan pemahaman apa yang ia baca tanpa suara),membaca cepat (dilakukan dalam waktu yang cepat) dan membaca teknik/oral reading (membaca dengan suara dan intonasi). Tahapan mengenai aspek dari sebuah pembacaan ; tahap pemahaman media bentuk tulisan, media disini adalah tanda baca itu sendiri, kode-kode pengungkap gagasan. Lalu ada tahapan pemahaman media kebahasaan meliputi aspek seperti aspek fonologis, morfologis, dan sintaksis. Kemudian dilanjutkan dengan aspek leksis-semantis. Merupakan tahapan dimana kegiatan pembaca dalam upaya memahami kata-kata dalam suatu teks, baik secar tersurat maupun tersirat. Dan yang terakhir adalah tahapan penarikan kesimpulan. Dalam rangka kegiatan membaca pasti menimbulkan penilaian teks sastra secara lisan apalagi bila ada sebuah moment memperingati “Bulan Bahasa” yang jatuh pada bulan November kemarin. Kriterianya adalah sebagai berikut : 1) pemahaman 2) penghayatan dan 3) pemaparan. Dalam membaca juga diperlukan adanya ekspresi, pelafalan, kelenturan dan daya konvresasi.
            Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin “apreciato” =”mengindahkan” atau “menghargai”. Proses apresiator melibatkan : unsur kognitif(berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsure-unsur), aspek emotif                                        (berkaitan dengan aspek emosi pembaca) dan aspek evaluative (berkaitan dengan penilaian baik atau buruk). apresiasi sastra secara langsung adalah sebuah apresiasi sebuah karya sastra secara langsung apabila tidak langsung mungkin seorang pembaca membaaca dalam ssebuah artikel misalnya, tanpa menikmatinya secara langsung. Bekal awal seorang apresiatr adalah ia harus mengetahui seluk beluk unsur – unsur karya sastra sedangkan landasan seorang aprsiator itu sendiri banyak ragamnya: missal, pendekatan emotif, analitis, historis,dll. Seiring dengan kompleksitas unsure sebuah teks terdapat berbagai aliran bermunculan seperti fenomenologi yang memusatkan perhatiannya pada nilai, formalisme pada aspek bentuk atau kebahasaannya, strukturalisme klasik memusatkan perhatiannya pada deskripsi bahasa dalam teks sastra.penilaian itusendiri ada yang objektif dan subjektif. Dan masih banyak lagi. Manfaat yang kita dapat dalam mengapresiasi sebuah karya sastra  secara umum sebagai pengisi waktu luang dan sbagai hiburan. Adapila silihat secara khusus adanya manfaat ketika kita membaca karya sastra, adanya sebuah informasi, dan menambah wawasan.
Dari tadi kita membahas mengenai prosa fiksi, sebenarnya apa sih prosa fiksi itu?  Prosa fiksi itu adalah kiasan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak darihasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dalam sebuah karya fiksi terdapat komponen di dalamnya, diantaranya SettingÞlatar peristiwa dalam karya fiksi baik tempat, waktu atau peristiwa.setting juga berhubungan dengan komponen yang lain. Seperti tokoh dan penokohan. Gaya Þcara seorang pengarang menyampaikan idenya. Dan gaya bahasa antar pengarang yang satu dengan yang lain pasti berbeda. Berikut ini adalah gambar bagan hubungan antara gaya dengan ekspresi pengarang dan implikasinya ;
GagasanÞpengarang(sikap,pengatahuan,pengalaman&suasana batin)ÞekspresiÞgaya bahasa
Penokohan dan perwatakan Þtokoh = pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi. Tokoh ada 2 tokoh utam dan sampingan, lalu ada tokoh bulat dan datar,jenis tokoh itu ada protagonis dan antagonis. Dan penggambaran tokoh itu dapat kita ketahui dari penjelasan pengarang itu sendiri, dari dialog dan dari gambaran dari tokoh lain. Alur Þtahapan-tahapan peristiwa sehingga menjadi sebuah cerita. Pertama diawali dengan konfliksÞklimaksÞpeleraianÞpenyelesaianÞperkenalan.namun tahapan ini bisasaja berubah.alur memiliki ragam ada alur maju (semua peristiwa berurutan menuju masa depan), alur mundur (semua peristiwa yang ada mengarah ke masa lalu) dan alur maju mundur(bermula dari masa lalu®masa kini®masa yang akan datang). Titik pandangÞcara menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan, ada pelaku utama serba tahu, pengarang sebagai pengamat, pengarang sebagai pengamat dan dan ia juga sebagai penutur. Tema Þide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.
            Teori mimesis/tiruan mempunyai 2 tokoh besar “Plato” dan “Aristoteles” menurut Plato : seorang tukang lebih baik dari pada seorang seniman karena menurut dia sebuah copy lebih bagus menjadi sebuah copy masih mencerminkan ide asli dan seni juga bisa menghancurkan negeri  kecuali seni yang berbau nasionalisme.berbeda dengan Aristoteles yang memandang seni itu sesuatu yang berharga dan lebih berjiwa. Dengan seni sebuah kenyataan yang digambarkan tidak akan terasa benar-benar nyata. Sebuah puisi memiliki sebuah struktur abstrak dan upaya untuk memahaminya. Banyak teori membaca yang dikemukakan oleh berbagai ahli, diantaranya Tzvetan Todorov = proyeksi, komentar dan puitika. Dalam karya sastra itu pasti terdapat bentuk-bentuk semiotika, semitika itu yaitu tanda. Ilmu yang mempelajari mengenai tanda. Pemahaman mengenai tanda missal “batu” dapat kita tembus dengan post-strukturalisme atau dengan pendekatan sinkronis dan diakronis. Selain kita memandang teori adalah sesuatu yang hebat nnamun, janganlah didewakan.kita harus bisa memberi simpulan tersendiri fan melibatkan unsure-unsur yang ada.
            Puisi berasal dari bahasa Yunani “poeima” atau “poesis”dan bahasa inggris “poetry”=”membat” dan “pembuatan”. Menurut McCaulay puisi : salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi. Dari bentuk ®puisi epik, naratif, lirik, dramatik, didaktik, satiric, romance, elegi, ode dan himne. Dilihat dari strktur meliputi : bunyi, kata, larik atau baris, bait dan tipografi. Gaya dalam berpuisi: seperti metaphor, metonimi, anaforadan oksimoron. Unsure intrinsic puisi menurut Wellek : a)lapis bunyi, b)arti c)lapis dunia  yang digmbarkan penyair d)lapis dunia dari titik tertentu e)lapisdunia yang bersifat metafisis.
            Seorang apresiator ketika melakukan kegiatan apresiasi dengan melakukan pendekatan hendaknya disesuaikan dengan apa yang akan ia apresiasikan pertama membaca karya sastra itu secara berulang-ulang, kedua menetapkan butir masalah yang akan dianalisis serta menentukan tata urutannya ketiga menganalisis puisi sesuai dengan masalah dan dan tata urutan yang telah ditetapkan. Sebagai salah satu genre sastra , puisi, selain mengandung nilai-nilai kehidupan, sosialpsikologis, juga mengandung nilai kesejarahan. Oleh sebab itu, lewat puisi,sering kali pembaca dapat menemukan unsure-unsur historis yang berkitan dengan zaman saat puisi itu dilahirkan.
            Mengenai kehidupan pengarang, kapan dan dimana ia dilahirkan merupakan salah satu bagian penerapan pendekatan histories bukan untk menghafal angfka atau huruf. Dan pembahasan mengenai hubungan antara pengarang / penyair dengan gagasan sangat berhubungan erat.karena suatu gagasan seorang penyair atau pengarang dapat mempengaruhi munculnya sebuah karya sastra. Dan penciptaan puisi itu sendiri sering kali dipengaruhi oleh pandangan tentang kesustraan suatu zaman. Pada angkatan 45’ misalnya mereka banyk yang bersifat eksprsionistik dan berbeda dengan angkatan pujangga baru yang puisinya merupakan cermin/potret dari objek penciptaan “impresionistik”.
            Sebuah puisi juga tak lepas dari hubungannya dengan kehidupan social masyarakat. Karena ada beberapa puisi yang mencerminkan kehidupan social,missal puisi karya Hartojo yang berjudul “dari seorang guru kepada murid-muridnya”.kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individu atau kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan suatu puisi.
Kehidupan sosial masyarakat®penyair…impresi, pengolahan, penyikapan, empati®PUISI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar